Tips Memilih Learning Management System

Sejak ada ketentuan bidang kependidikan harus melakukan aktivitas dari rumah, maka berbagai metoda pengajaran secara daring pun dikembangkan. Guru dan dosen harus berimprovisasi supaya pengajaran tidak membosankan dan materi yang disampaikan efektif. Baru-baru ini saya mengikuti webinar tentang “Strategi Dalam Menjalankan Online Learning yang Efektif” diadakan oleh akubelajar(dot)id dan brightspace(dot)com. Ada dua narasumber yang presentasi, yaitu bapak Hartoto (Universitas Negeri Makassar) dan Chris Lawrence (Te Kura School, New Zealand). Bapak Hartoto, online learning expert, menggunakan Learning Management System sebagai platform pembelajaran daringnya.

Apa itu Learning Management System

Learning Management System (LMS) adalah sebuah aplikasi software yang dapat membantu merencanakan, mengimplementasikan sebuah proses pembelajaran. LMS memungkinkan pemilik atau pembuat course untuk memanage, menyampaikan, dan memonitor para muridnya. LMS memadukan antara kursus tradisional dengan media digital dan alat interaktif meliputi kursus online, virtual live sessions dan forum diskusi.

Ciri-ciri Learning Management System, peserta di kelas online bisa menggunakan layanan ‘’self-service’’ dan ‘’self-guided’’. Selain itu, dosen atau guru mudah mengumpulkan dan menyampaikan konten pembelajaran dengan cepat.

Hal ini dijelaskan oleh bapak Hartoto pada waktu presentasi materinya. Sebagai pengajar bisa memantau kelas, apakah peserta interaktif atau tidak pada saat jam belajar. Berkat adanya platform LMS, peserta kelas bisa terpantau durasinya ketika membaca materi.

Durasi, lama atau sebentar berinteraksi dengan materi memang ada dua kemungkinan. Kalau lama, memang dibaca. Kalau sebentar, belum tentu tidak dibaca, ada kemungkinan diunduh, untuk dibaca kemudian.

Masih menurut bapak Hartoto ada 5 strategi dalam menjalankan online learning, yaitu:

  1. Susun ulang rencana pembelajaran
  2. Gunakan beragam sumber belajar
  3. Berikan aktivitas yang menantang
  4. Gunakan tools yang tepat
  5. Nikmati semua prosesnya

Memilih Platform LMS

Untuk mengembangkan metode pembelajaran dengan sistem LMS, sebagai pengajar harus mencari informasi terlebih dahulu tentang platformnya. Pilihan platform LMS ada banyak, ada yang opensource dan berbayar. Tentunya setiap brand mempunyai kelebihan dan kekurangan masing-masing.

Berikut beberapa pilihan platform LMS:

1 – MOODLE (http://moodle.org) adalah aplikasi web gratis bagi pendidik dan mungkin salah satu LMS gratis yang paling populer di pasaran pada saat ini. Moodle adalah perangkat lunak LMS open source sehingga terus-menerus ditingkatkan dan dikembangkan. Namun, kita mungkin perlu menyewa pihak ketiga untuk menyesuaikan platform-nya agar sesuai dengan kebutuhan. Gratis bukan berarti tidak perlu mengeluarkan uang, namun patut mencobanya. Mungkin saja fitur yang sudah langsung tersedia cocok dengan kebutuhan kita.

2 – Academy Of Mine (http://www.academyofmine.com). Meskipun secara teknis tidak gratis, situs ini menawarkan banyak layanan yang tidak ditawarkan oleh LMS gratis. Pertama-tama, banyak LMS gratis yang tidak memungkinkan untuk mengomersilkan kursus kita. Di sini kita dapat menjual dan menghasilkan uang dari perangkat lunak kursus online yang kita bangun. Kedua, banyak fitur pada LMS gratis yang kurang memuaskan dari sudut pandang rancangannya.

3 – Dokeos (http://www.dokeos.com) adalah platform pembelajaran open source. Situs ini memiliki beberapa template kuis yang tinggal pakai dan perangkat untuk menulis kursus. Pada website-nya kita dapat mengunjungi halaman “video” untuk melihat daftar tutorial yang tersedia dengan platform berbasis PHP. Kita dapat melihat sekilas bagaimana cara kerja back-end admin kursus.

4 – Udemy (https://www.udemy.com) adalah pilihan yang menarik bagi mereka yang ingin menjual kursusnya secara online. Karena Udemy menangani pemasaran kursus online, dukungan pelanggan, hosting, dan sebagainya, mereka mengambil 50% dari penjualan kursus kita. Di Udemy tidak ada biaya bulanan sehingga kita dapat mengajarkan kursus secara gratis dari situs web mereka.

5 – Brightspace merupakan Learning Management System (LMS) yang dibuat oleh D2L (Desire 2 Learning) yang memiliki kantor pusat di Kanada. Saat ini, lebih dari 1.200 universitas di seluruh dunia sudah menggunakan LMS dari Brightspace termasuk diantaranya adalah Universitas Negeri Surabaya (UNESA), Universitas Negeri Jakarta (UNJ), Universitas Negeri Medan (UNIMED), Harvard Business School, Singapore management University dan lain sebagainya.

Masih ada pilihan-pilihan LMS lainnya sesuai dengan keinginan dan kebutuhan klien.

Pengembangan Pembelajaran dengan LMS 

Setelah memilih platform untuk mengembangkan e-learning maka perlu dilakukan langkah-langkah agar pembelajaran tetap menarik dan interaktif.

1 – Memilih platform
Platform LMS yang digunakan untuk media pembelajaran dapat digunakan dalam beberapa sistem. Model sistem pertama dapat berupa sistem LMS berbasis cloud atau yang dikenal dengan Software as a Service (SaaS). Ada pula sistem yang dikembangkan melalui open source dan pengembangan yang dilakukan oleh kampus.

2 – Pemilihan materi dan tugas
Setelah selesai memilih platform, selanjutnya kita perlu membuat konten untuk LMS. Konten ini dapat berupa pemilihan materi untuk pelajar dan juga tugas-tugas (ujian/test), jadwal dan juga yang terpenting adalah topik materi yang akan diberikan kepada pelajar. Langkah ini perlu dilakukan untuk memastikan bahwa pembelajaran yang diberikan kepada pelajar merupakan materi yang tepat untuk pelajar.

3 – Modul test/ujian dan statistik
Penambahan modul test/ujian ini akan membantu untuk melihat perkembangan dan memastikan bahwa materi sudah diterima oleh pelajar. Kita juga dapat menambahkan modul statistik untuk pelajar berdasarkan nilai atau hasil dari ujian yang diikuti oleh pelajar. Statistik akan memungkinkan untuk memantau semua aktivitas/kegiatan pelajar selama mengikuti pembelajaran. Bahkan, statistik ini juga dapat dikembangkan untuk mengukur waktu yang diperlukan oleh siswa dalam mengikuti ujian. Lumrahnya, jika pelajar memahami materi pelajaran yang didapat, tentunya ia dapat mengerjakan tugas dengan waktu yang lebih cepat pula.

4 – Uji kelayakan konten
Jika banyak pelajar yang tidak memahami apa yang disampaikan pada sistem LMS, itu menjadi pertanda bahwa metode yang diberikan tidak sesuai dengan pelajar. Kita harus selalu melakukan pengujian secara berkala untuk memastikan materi yang diberikan benar-benar sesuai dengan karakter pelajar, disinilah sisi efektivitas dari penggunaan sistem LMS akan mulai terlihat.

Kesimpulan

Learning Management System sama halnya dengan platform-platform lain, hanyalah sebuah media atau alat untuk memudahkan kita. Selanjutnya sebagai dosen atau guru tetap dituntut untuk kreatif mengisi dan update kelas kita masing-masing.

Semoga bermanfaat.

Sumber:

https://medium.com/@triannisa/learning-management-system-7ed26e506143

Tinggalkan komentar