bekerja
serba-serbi

5 Kemungkinan Penyebab Seseorang Malas Bekerja

Barangkali ada di antara kita yang produktivitas kerjanya dirasakan menurun lalu tidak mood bekerja. Kemudian kita mencari penyebab di sekitar kita, bahwa mungkin rekan kerja yang membuat kita tidak nyaman, klien yang bawel, bahkan benci pada hari Senin. Padahal mungkin saja penyebab kita malas bekerja adalah kursi yang kita duduki tidak nyaman, lampu neon yang berkelap-kelip, atau bunyi printer yang konstan dari meja seberang.

Faktanya, kita menghabiskan sekitar 70-80% di dalam ruangan dan hampir 9 jam sehari dihabiskan di tempat kerja. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa kualitas lingkungan tempat kita bekerja memiliki efek jangka pendek dan panjang pada kenyamanan, kesehatan, dan produktivitas. Berikut beberapa faktor lingkungan tempat bekerja yang memengaruhi individu yang bekerja di ruangan tersebut.

Kenyamanan Termal

Kenyamanan termal adalah kemampuan tubuh merasakan dan beradaptasi terhadap suhu ruangan. Beberapa faktor berdasarkan pada lokasi geografis, waktu dalam setahun, jenis kelamin, ras, dan usia. Kenyamanan termal yang masih bisa diterima oleh tubuh adalah sekitar 25 hingga 30 derajat C. Beberapa orang ada yang merasa sudah terlalu panas, beberapa orang masih menganggap biasa. Oleh sebab itu parameternya adalah suhu udara, cuaca, kelembapan udara relatif, kecepatan udara, tingkat metabolisme seseorang dan pakaian yang dipakai.

Kenyamanan Akustik

Kenyamanan akustik berkaitan dengan desain interior yang mampu melindungi penghuni dari kebisingan internal dan eksternal. Kebisingan internal misalnya, suara orang mengobrol, suara peralatan kantor seperti printer, dan mesin-mesin lainnya. Suara dari luar, misalnya suara kendaraan dari jalan, suara anak-anak dari sekolah yang sedang istirahat, dan lain-lain.

Kenyamanan akustik erat kaitannya pilihan bentuk ruangan dan material pelapisnya. Ruangan panjang dan sempit yang dindingnya parallel (sejajar), kemungkinan besar saling memantulkan suara yang berasal dari kita sendiri. Begitu juga bila memilih lantai yang materialnya keras, maka kemungkinan besar akan memantulkan suara orang yang lalu lalang. Oleh sebab itu harus dicari material penyerap suara atau lebih sering disebut acoustic board untuk dinding dan langit-langit (ceiling). Pengaturan tata letak ruang kerja bisa juga meminimalis sumber-sumber suara kebisingan tersebut.

Kenyamanan Visual

Kenyamanan visual tentu saja berkaitan dengan kenyamanan desain ruangan terhadap mata kita. Bisa kondisi terang-gelap sebuah ruangan, pemandangan dari tempat kerja, penerangan, dan tata lampu. Selain masalah pencahayaan pada ruangan, tata letak yang padat suatu kantor pilihan mebel juga bisa memengaruhi kenyaman visual. Sehingga membuat orang yang bekerja di dalam ruangan menjadi tidak betah.
Tata letak open plan dengan batas ruangan rendah dan masih bisa melihat ke luar jendela, ditengarai lebih nyaman daripada ruangan yang tertutup dinding seluruhnya.

bekerja
Kenyamanan Visual

Kualitas Udara Dalam Ruangan

Kualitas Udara dalam Ruangan atau Indoor Air Quality (IAQ) adalah kualitas udara bersih dan seminimal mungkin prosentase polutan udara.
Adapun polusi udara tidak selalu berasal dari udara luar yang kualitasnya tidak bagus, tetapi bisa saja terjadi akibat udara didalam ruangan yang tidak tersirkulasi baik. Biasanya pada gedung tinggi atau ruangan ber-AC atau berventilasi mekanis. Penggunaan ventilasi alami selain langsung memperoleh udara segar dari luar juga hemat energi. Walaupun demikian harus diperhatikan kualitas udara luar, berpolusi atau tidak.

Sick Building Syndrome (SBS)

SBS adalah kondisi kesehatan yang cukup serius pada orang-orang yang bekerja di dalam ruangan tertutup selama berjam-jam dan berhari-hari. Faktor kesehatan tersebut diakibatkan kualitas lingkungan dalam ruangan seperti penutupan lubang alami untuk masuknya udara bersih, penggunaan bahan konstruksi yang ternyata mengandung racun. Bisa juga disebabkan oleh lapisan pada mebel, saringan AC yang kotor, tungau debu pada karpet, zat-zat allergen, dan peralatan kantor yang menimbulkan radiasi.
Karyawan dengan SBS antara lain mengalami gejala iritasi mata, hidung dan tenggorokan, sakit kepala, batuk, mengi, sensitif terhadap cahaya, gangguan pencernaan, hingga gejala flu yang tak kunjung sembuh.

Bagaimana dengan individu yang bukan bekerja di kantor tetapi bekerja di rumah?
Lima hal di atas bisa saja terjadi untuk kondisi bekerja di mana saja, karena kenyamanan tersebut berkaitan dengan ruang dalam. Oleh sebab itu ada baiknya mencek faktor kenyaman dari ruangan tersebut agar kita tidak malas bekerja.

14 Komentar

      • Ulfah Wahyu

        Nah benar banget Mbak Hani. 5 hal di atas memang bisa menjadi faktor kita malas dalam bekerja. Saya yang di rumah juga, berusaha menciptakan suasana rumah yang nyaman dan tenang untuk beraktivitas. Apalagi sebagai ibu rumah tangga yang tidak bekerja di luar ya. Biar tetap betah berada di rumah, harus benar-benar memperhatikan suasana rumah agar tetap nyaman dan menyenangkan bagi kita. Jangan sampai merasa bosan berada di rumah karena kondisi rumah yang tidak nyaman. Terima kasih sharingnya Mbak. Jadi bersemangat lagi nih agar menciptakan rumah sebagai tempat bekerja yang nyaman.

      • Bety Kristianto

        Untuk ngatasin rasa malas dan bosan, aku mah suka nyetel Musik dan taroh barang-barang kesayangan di meja atau deket tempat duduk gitu. Mayan works for me sih… Abis tu nyeruput kopi dannnn…. Nonton drakor hahahaha. Nggak ding. Nulissss

  • Putri Kurniawati

    Nah iya tuh kadang langsung sumpek rasanya kalo tempat kerja berantakan atau minim cahaya. Trus, kalau rekan kerja pada berisik ngobrol atau ngegosip juga bikin buyar dan hilang konsentrasi

    • hani

      Mau engga ikutan ntar dibilang sombong yah. Tapi kan pengen kerjaan beres, biar engga perlu bawa ke rumah…
      Makasih udah mampir

      • Hasiah

        Wah bener juga ya mbak, saya baru nyadar soal ini. Kadang juga kita kalo sudah kelamaan di ruang A, tiba2 disuruh pindah ruangan kan jadi males. Karena viewnya kurang asiklah, sirkulasi udara ngga bagus, malah kadang warna tembok pun jadi masalah, hehehe..

      • Deean Cahyadi

        Kenyamanan ruangan kerja emang ngaruh sama mood pekerjanya, ya, Mba.

        Dulu waktu kerja di ruangan tertutup yang didepanku cuma ada kertas tertempel, samping kiri kanan ketutup, dan di depan mata cuma ada komputer dan telepon yang tiap detik ga berenti berdering. Ughh… setiap jam istirahat datang adalah syurga buat aku.

        Beruntung di divisi itu cuma 3 bulan sebelum akhirnya aku pindah divisi yang penempatannya di airport. Hari-hari aku merasa menikmati hidup dan kerjaan. Beda banget waktu masih di office.

    • Amel

      Kadang-kadang, kalau seharian bekerja di ruang tertutup, rasanya pas keluar lingkungan sangat asing. Badan juga tidak enak seperti rasa masuk angin. Mungkin beberapa jam sekali mesti keluar ya menghirup udara segar

  • lisa lestari

    Bener banget bun, kenyamanan visual punya pengaruh besar banget. Aku tuh kalau ruangan tempat bekerja kok berantakan rasanya belum mau kerja. Harus rapi dulu. Ternyata itu masuk kenayamanan visual

  • Sri

    Nambah istilah baru nih, kenyamanan termal, akustik dan visual. Tapi make sense sih, kalau suhu gak pas, bising, tambah ruang kerja berantakan bikin ambyar semangat kerja. Aku ya gitu, padahal mah emang malesan ajah, hehe

  • Dawiah

    Betul banget ini mbak. Saya malas kerja di ruangan bising apalagi kalau kerjaannya membutuhkan konsentrasi penuh, makanya kalau nulis saya sukanya subuh, saat orang-orang di rumah masih tidur.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *